Ini yang Bakal Terjadi Jika Negara Melakukan Lockdown Karena Corona

Ini yang Bakal Terjadi Jika Negara Melakukan Lockdown Karena Corona
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on pinterest

Saham MilenialLockdown karena corona menjadi wacana yang masih belum resmi ditetapkan oleh pemerintah. Namun rupanya meski bertujuan untuk menyelamatkan lebih banyak orang agar tidak terjangkit virus Covid-19, sistem ini menuai pro dan kontra.

Ada beberapa konsekuensi yang harus diterima negara, khususnya para penduduk Indonesia. Akan timbul dampak pada perekonomian Indonesia dan seluruh lini kehidupan untuk waktu yang belum bisa dipastikan.

Di berbagai negara lain yang juga menjadi destinasi kunjungan virus corona, telah menerapkan sistem lockdown seperti China, Italia, Denmark, Polandia dan beberapa lainnya. Sistem lockdown mengandung pengertian ditutupnya akses keluar masuk negara, baik pendatang menuju Indonesia maupun warga negara yang hendak pergi meninggalkan tanah air. 

Ada aktivitas mengkarantina penduduk di kediaman masing-masing agar tidak beraktivitas di luar rumah. Hal ini dilakukan demi menghentikan penambahan pasien terjangkit corona dan untuk memutus rantai penyebaran virus tersebut.

Berdasarkan informasi terkini tentang jumlah pasien positif corona di Indonesia adalah total 117 orang. Dan lockdown merupakan keputusan pemerintah pusat yang tidak bisa diambil oleh pemerintah daerah atau kota.

Jika memang nantinya sistem ini dengan terpaksa ditetapkan di Indonesia, maka seluruh warga negara dan pejabat pemerintah wajib menerima konsekuensi dampak lockdown tersebut.

Gambaran Kondisi Indonesia Jika Negara Terpaksa Lockdown

Pemerintah Indonesia masih mengunci keputusan lockdown yang sudah ramai digunjingkan warganet dan seluruh masyarakat. Indonesia dinilai masih cukup aman untuk tidak mengeluarkan sistem lockdown sehingga cukup imbauan yang ditetapkan.

Tetapi jika memang kondisi telah menekan pemerintah untuk memutuskan sistem lockdown, maka berikut gambaran kondisi yang akan terjadi hal ini.

1. Agenda Kegiatan Massal Dibatalkan

Lockdown akan mematikan agenda kegiatan daerah atau kota seperti konser, kegiatan seni, pameran dan lain-lain yang mengumpulkan massa. Semua jenis acara yang hendak dilaksanakan dibatalkan atau ditunda sampai batas waktu selesainya sistem lockdown. Hal ini turut menghentikan pengoperasian bioskop, tempat wisata  dan pertemuan keagamaan ditutup.

2. Sekolah dan Perkantoran Diliburkan secara Offline

Kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online tanpa pertemuan tatap muka di kelas. Siswa mengerjakan tugas di rumah dengan dibantu orang tua untuk memantau, sementara pengajar tetap melakukan kontrol dan pengarahan materi sesuai kurikulum.

Para siswa harus memaksimalkan waktu belajar di rumah dengan cukup. Belajar tidak benar-benar diliburkan, namun lebih mengarah pada kegiatan belajar di rumah tanpa meninggalkan kewajiban utama sebagai murid.

3. Pembatasan Penggunaan Alat Transportasi

Tidak semua orang diizinkan untuk menggunakan alat transportasi umum. Bus, taksi dan kereta api hanya diperuntukkan bagi karyawan atau pekerja yang hendak berangkat dan pulang. Itupun dengan syarat memegang dokumen yang relevan.

Lockdown sungguh-sungguh mengunci batas-batas ruang gerak pekerja dan alat transportasi umum. Hal ini sangat penting mengingat penyebaran virus yang dapat berpindah dalam hitungan detik melalui kontak fisik dan kontak pada benda di dalam alat transportasi umum.

4. Aktivitas Rekreasi Harus Ditunda

Karantina serempak ini juga memberi garis pembatas pada kegiatan rekreasi. Karena termasuk kegiatan berkumpul dengan banyak orang, rekreasi juga memicu tersebarnya virus mematikan ini. Demi kesehatan dan keselamatan bersama rencana rekreasi siapapun harus dibatalkan atau ditunda.

Masyarakat diimbau untuk melakukan aktivitas hanya di dalam rumah. Mengisi waktu luang di rumah dan tidak perlu mengadakan rekreasi ke manapun meski jaraknya dekat sekalipun.

5. Aktivitas Sehari-Hari yang Dilakukan Di Rumah Saja

Selain pekerja karyawan, siswa sekolah, mahasiswa dan pengajar yang harus vakum dari kegiatan di luar rumah. Ibu rumah tangga serta masyarakat umum lainnya wajib  menaati sistem lockdown yang ditetapkan sebagai upaya pemerintah dalam menghentikan pandemi ini.

Aktivitas Sehari-Hari yang Dilakukan Di Rumah Saja
Aktivitas Sehari-Hari yang Dilakukan Di Rumah Saja

Masyarakat diminta untuk tidak bepergian kecuali karena alasan urgensi yang tidak dapat diwakilkan. Tidak mengunjungi pusat perbelanjaan dan tidak makan-makan di restoran sebisa mungkin.

6. Ekonomi Melemah, Devisa Negara Akan Mengkhawatirkan

Satu sektor yang paling dicemaskan banyak pihak adalah perekonomian Indonesia yang akan terbawa turun jika lockdown secara gamblang diberlakukan oleh pemerintah pusat. Pasar saham, pelaku bisnis, investor, pengguna produk dan jasa akan mengalami fase break dimana hal ini akan membuat ekonomi Indonesia terjun bebas. Pemasukan devisa negara pun akan semakin mengkhawatirkan.

7. Aset Fiskal Negara Menurun

Kecilnya aktivitas dan permintaan pasar terhadap barang dan jasa akan menghambat laju ekonomi yang juga menyebabkan dana perbendaharaan negara berada dalam kondisi genting. Operasional produksi yang akan macet bahkan terhenti menjadi sebuah keadaan yang cukup memprihatinkan.

8. Pasar dan Pertokoan Ditutup Kecuali Toko Makanan dan Apotek

Dalam keadaan darurat seperti itu, pelaku usaha harus menelan kenyataan bahwa tokonya ditutup paksa untuk menangkal kontak dengan lebih banyak orang. Toko busana, buku, peralatan elektronik dan lain sebagainya wajib menutup tirai dan pintu toko.

Pasar dan Pertokoan Ditutup Kecuali Toko Makanan dan Apotek
Pasar dan Pertokoan Ditutup Kecuali Toko Makanan dan Apotek

Tak ada aktivitas jual beli maupun transaksi lainnya. Hanya disediakan toko makanan dan apotek yang boleh melakukan kegiatan perdagangan namun tetap dalam pengawasan dan prosedur keamanan dari virus corona.

9. Menurunnya Penghasilan Para Pekerja

Seperti sebuah siklus yang saling terhubung, dampak corona menghubungkan satu efek dengan efek yang lainnya. Lockdown karena corona menjadikan hasil pendapatan para pekerja juga mendapat giliran jatuh atau bahkan hilang tak bersisa. Sektor industri yang meliburkan kegiatan usahanya menurunkan pemasukan dan menghambat karyawan mendapat gaji dan tunjangan.

10. Tidak Berolahraga di Luar Rumah

Olahraga memang menjadi salah satu penerapan pola hidup sehat yang penting untuk menjaga kebugaran tubuh. Namun alangkah jauh lebih aman jika kegiatan olahraga tidak dikerjakan di luar rumah, seperti jogging, pergi ke gym, lapangan olahraga dan tempat umum lain sebagai sarana olahraga.

Jika memang ingin berolahraga, cukup lakukan di area rumah tanpa berinteraksi dengan banyak orang. Hal ini menjadi arus yang mau tidak mau akan dirasakan akibat lockdown karena corona.

11. Kebutuhan Pangan Terganggu, Masyarakat Resah

Karena dihentikannya proses produksi makanan maka secara pasti akan mengganggu kebutuhan pokok makhluk hidup yakni makanan. Beberapa jenis makanan bahkan akan langka dan tidak bisa ditemukan hingga lockdown disudahi.

12. Gejolak Panic Buying Dimana-Mana

Setelah lockdown ditetapkan oleh pemerintah maka, dengan cepat masyarakat akan melakukan panic buying dengan membeli banyak bahan makanan dan keperluan sehari-hari sebelum mereka diisolasi dari diarahkan untuk tetap tinggal di rumah. Sampai hari ini, pemerintah masih meyakini bahwa himbauan untuk belajar di rumah, bekerja di rumah dan beribadah di rumah sebagai langkah yang cukup berpengaruh sehingga tidak segera memutuskan untuk melakukan lockdown karena corona. Namun demikian, sebaiknya tindakan ini juga tidak dilakukan terlambat karena apabila berselisih satu atau dua hari saja dari waktu seharusnya ditambah kesadaran masyarakat rendah, akibatnya bisa membahayakan banyak korban jiwa.

Artikel Terkait

Baca Juga